Alasan Minuman Bersoda Tidak Baik Untuk Kesehatan

penyakit
minuman bersoda memicu gangguan kesehatan seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan kerusakan gigi

Apabila dikonsumsi dengan berlebihan, minuman atau makanan yang mengandung gula tambahan dapat memiliki efek negatif terhadap kesehatan tubuh. Minuman bersoda, misalnya, dianggap sebagai kontributor utama beberapa kondisi kesehatan seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan kerusakan gigi. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), di Amerika Serikat, sekitar setengah dari populasi warganya minum setidaknya satu minuman bersoda setiap harinya. Dalam satu minuman bersoda paling populer, terdapat 37 gram gula tambahan atau sekitar 10 sendok teh. Untuk kesehatan yang optimal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan mengonsumsi tidak lebih dari 6 sendok teh gula setiap harinya. Pada studi tahun 2015, ada sekitar 184 ribu kasus kematian di seluruh dunia setiap tahunnya yang disebabkan karena mengonsumsi minuman bersoda. 

Minuman bersoda tidak membuat kenyang dan sering dihubungkan dengan penambahan berat badan

Bentuk umum gula tambahan, sukrosa atau gula meja, menyediakan jumlah fruktosa gula sederhana dalam jumlah besar. Fruktosa tidak menurunkan kadar hormon lapar ghrelin atau menstimulasi rasa kenyang seperti glukosa. Sehingga, ketika Anda mengonsumsi gula cair, Anda biasanya akan menambahkannya di atas asupan kalori total, karena minuman bersoda tidak membuat perut kenyang. 

Dalam sebuah studi, orang-orang yang minum minuman bersoda sebagai tambahan diet sehari-hari mereka mengonsumsi 17 persen lebih banyak kalori dibandingkan sebelumnya. Studi lain juga menunjukkan mereka yang meminum minuman berpemanis tambahan secara rutin mendapatkan peningkatan berat badan dibandingkan dengan mereka yang tidak. Pada sebuah studi pada anak-anak, menyajikan minuman bersoda setiap harinya meningkatkan risiko obesitas sebesar 60 persen. 

Gula dalam jumlah yang besar diubah menjadi lemak di hati

Gula meja (sukrosa) dan sirup jagung tinggi fruktosa terbuat dari 2 buah molekul, glukosa dan fruktosa, dalam jumlah yang seimbang. Glukosa bisa dimetabolisme oleh setiap sel di tubuh. Sementara itu, fruktosa hanya bisa dimetabolisme oleh hati. Minuman bersoda merupakan cara termudah untuk mengonsumsi fruktosa dalam jumlah yang banyak. 

Saat Anda mengonsumsi fruktosa dalam jumlah berlebih, hati akan kelebihan beban, dan mengubah fruktosa menjadi lemak. Beberapa lemak dikirim menjadi trigliserida darah, sementara sebagian yang lain tertinggal di hati. Setelah beberapa lama, hal ini dapat menjadi faktor risiko penyakit hati berlemak non-alkohol.

Gula meningkatkan akumulasi lemak perut secara drastis

Asupan gula yang tinggi sering diasosiasikan dengan pertambahan berat badan. Fruktosa dihubungkan dengan peningkatan lemak berbahaya di perut dan organ-organ tubuh. Ini disebut dengan istilah lemak visceral atau lemak perut. Lemak perut berlebih dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Dalam sebuah studi 10 minggu, 32 orang sehat mengonsumsi minuman bersoda yang mengandung fruktosa dan glukosa. Mereka yang mengonsumsi glukosa memiliki peningkatan pada lemak kulit, yang tidak berhubungan dengan penyakit metabolisme, dan mereka yang mengonsumsi fruktosa mendapatkan peningkatan lemak perut. 

Minuman bersoda dapat meningkatkan resistensi insulin, fitur kunci sindrom metabolisme

Hormon insulin akan membawa glukosa dari aliran darah ke sel-sel tubuh. Namun, ketika Anda meminum minuman bersoda, sel-sel tubuh akan menjadi kurang sensitif atau resisten terhadap efek insulin. Saat hal ini terjadi, pankreas harus membuat lebih banyak insulin untuk membersihkan glukosa dari aliran darah, sehingga level insulin di darah Anda meninggi. Kondisi ini dikenal dengan sebutan resistensi insulin. Sebuah studi pada pria sehat menemukan bahwa asupan sedang fruktosa dari minuman bersoda meningkatkan resistensi insulin di hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *