Melihat Impulse Buying Dari Kacamata Sains

hidup sehat

Para pemilik bisnis ritel tentu senang sekali dengan kebiasaan berbelanja secara impulsif atau impulse buying. Tapi, tahukah Anda, kebiasaan ini muncul akibat kondisi psikis tertentu?

impulse buying

Sekali saja dalam hidup, setiap orang mungkin pernah melakukan impulse buying. Di mana kita membeli suatu barang tanpa direncanakan sebelumnya, bahkan tanpa pikir panjang sama sekali. Barang yang dibeli dapat berupa apa saja; makanan, pakaian, aksesoris, dan lain sebagainya.

Bagi sebagian orang, hal ini dapat ‘menyerang’ setalah melalui hari yang melelahkan. Sebagian lain mungkin sesederhana karena melihat barang yang dipajang di kasir.

Pertanyaannya, dari mana dorongan tersebut muncul?   

Alasan di balik impulse buying

Sebagai konsumen, banyak orang merasa telah membuat keputusan yang sadar saat berbelanja, yaitu berdasarkan kebutuhan dan keinginan. Sebagian besar dari kita merasa yakin terkait alasan saat membeli barang.

Akan tetapi, berbagai riset dan survey yang dilakukan para ahli menunjukkan sebaliknya. Berdasarkan hasil survey, banyak sekali orang yang cenderung membeli barang yang tidak direncanakan sebelumnya, barang yang tidak dibutuhkan, bahkan barang yang tidak sepenuhnya diinginkan, semata-mata sebagai sebuah tindakan impulsif.

Dilihat dari sisi ilmiah, impulse buying dapat dipicu oleh beberapa faktor, antara lain:

– Kesenangan

Kita memiliki kecenderungan untuk memilih barang yang membuat kita senang. Dan pikiran tentang kesenangan secara tiba-tiba luar biasa sekali dampaknya.

Tiba-tiba memiliki barang baru atau menghadiahi diri sendiri selalu terasa seperti ide cemerlang untuk mengatasi hari yang buruk, membuat hari yang membosankan lebih menarik, juga sebagai motivasi setelah bermalas-malasan sepanjang hari. Inilah mengapa jenis barang yang dibeli secara impulsif akan berbeda pada setiap orang. Beberapa mungkin akan melakukan impulse buying berupa buku, sebagian yang lain produk kosmetik. Sebab kesenangan setiap orang berbeda-beda, bukan?

– Perasaan tidak ingin rugi

Seberapa sering Anda luluh dengan promo “Beli 2 Gratis 1” atau “Diskon hanya hari ini”? Entah sepatu atau sabun, kita jadi membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan sebab takut tidak tersedia lagi dengan promo tersebut.

Ide tentang kita memperoleh lebih dengan jumlah uang yang sama selalu berhasil meluluhkan hampir setiap orang.

– Merasa perlu memiliki stok

Manusia memiliki kecenderungan takut tidak memiliki cukup stok atas apa pun. Hal ini membuat banyak orang memiliki tendensi untuk menimbun barang. Apalagi jika melihat adanya promo terbatas. Seketika menjadi tergesa-gesa untuk berbelanja, tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

– Bias dalam mengevaluasi penggunaan suatu barang

Konon, manusia termasuk makhluk yang optimis. Sebagai contoh, kita yakin akan memakan semua makanan yang kita beli, memakai semua baju yang kita beli, dan akan menggunakan seluruh perabot rumah tangga yang baru saja kita pilih dari took furniture terkemuka.

Meskipun ada orang yang mengingatkan, sebagian besar barang tersebut akan berakhir sia-sia. Kebanyakan dari kita tidak akan peduli dan tetap melakukan impulse buying.

Kaitan kondisi emosi dengan impulse buying

Terlepas dari berbagai faktor pemicu yang disebutkan sebelumnya, ternyata manusia cenderung membeli sesuatu yang membuat dirinya merasa lebih baik atau memiliki nilai secara emosional. Para ahli menjelaskan, hal ini terjadi karena kita menganggap barang tertentu akan membantu membuat kita lebih bahagia dan menghilangkan perasaan tidak bahagia atau keraguan dalam diri kita.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa semakin buruk suasana hati seseorang saat memasuki pusat perbelanjaan, semakin banyak barang yang dibelinya. Distraksi atau tidak berada pada momen saat ini juga cenderung membuat kita melakukan impulse buying. Ketika pikiran kita memikirkan hal lain dan tidak fokus, ada kecenderungan untuk berbelanja barang yang ‘terlihat’ menarik. Diduga karena manusia memeiliki kapasitas mental yang terbatas. Tidak heran, banyak ahli yang menyarankan untuk berlatih hidup secara sadar atau consciuos living.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *