Ragam Perawatan Mata Bagi Anak, Apa Saja?

penyakit

Kecuali ada masalah, kebanyakan orang tua kerap mengabaikan pemeriksaan mata anaknya. Padahal, menurut Michael Repka, profesor oftalmologi dari Johns Hopkins University School of Medicine, Maryland, Amerika Serikat, setiap anak sebaiknya diperiksa matanya saat berusia 6 bulan, 3 tahun, dan sebelum masuk kelas 1 Sekolah Dasar.

Tanpa pemeriksaan, anak yang gangguan penglihatan kerap menderita berbagai masalah, seperti enggan ke sekolah, sulit memperhatikan pelajaran, kesulitan membaca dan menulis, sakit kepala, dan lainnya. Hanya saja, tak jarang, anak-anak tidak dapat mengutarakannya.

Jika si anak memiliki gejala gangguan penglihatan, lebih-lebih orang tuanya berkacamata, anak itu sebaiknya diperiksa oleh dokter mata. Terdapat tiga jenis pakar kesehatan mata, yaitu:

  • Oftalmologis: Dokter mata yang berwenang memeriksa, memberi resep lensa koreksi, mengobati, dan mengoperasi.
  • Optometris: tenaga kesehatan yang berwenang memeriksa mata, memberi resep lensa koreksi, mendiagnosa gangguan mata umum, dan mengobati beberapa penyakit mata. Namun, mereka tidak berwenang mengobati penyakit mata kompleks dan mengoperasi.
  • Optician: pekerja di optik yang merangkai, mengepaskan, menjual, dan memasukkan resep koreksi pada lensa.

Pemeriksaan mata pada anak biasanya meliputi:

  • Inspeksi mata: dokter atau tenaga kesehatan memeriksa mata dan kelopak, pergerakan otot-otot mata, pupil, dan bayangan sinar di bagian belakang mata.
  • Oftalmoskopi: Pemeriksaan bagian belakang mata. Biasanya hanya pada anak yang berusia cukup.
  • Tes refleks cahaya kornea: Menggunakan senter kecil, tenaga kesehatan mencari titik bayangan sinar di kornea. Jika tidak fokus dan bukan di tengah pupil, ada kelainan.
  • Tes mata tertutup: Untuk mendeteksi ketidaksesuaian posisi kedua mata, salah satu mata anak ditutup sementara mata lain berfokus pada target.
  • Tes visual: Masih dengan satu mata tertutup, anak diminta membaca huruf dan angka yang semakin mengecil.

Biasanya, tenaga kesehatan juga menanyakan apakah anak Anda membaca buku dari jarak sangat dekat, apakah ada kecenderung juling, apakah gerakan kelopak matanya tidak seimbang, apakah matanya pernah cedera, dan sebagainya.

Beberapa masalah yang kerap ditemui pada anak adalah:

  • Ambliopi: Biasa disebut mata malas, di mana satu mata lebih lemah dari mata yang lain. Otak akan memilih mengambil gambar dari mata kuat dan mengabaikan mata lemah. Lama kelamaan, mata lemah akan kehilangan kemampuan melihat.
  • Strabismus: Mata yang tidak seimbang atau juling Bisa memicu ambliopi. Dapat dikoreksi dengan operasi atau kacamata khusus.
  • Rabun dekat, rabun jauh, dan silindris: Dikoreksi dengan kacamata.

Jika anak Anda membutuhkan kacamata, terutama batita dan balita, pastikan lensanya terbuat dari plastik untuk menghindari risiko luka saat pecah. Untuk frame, Repka menyarankan para orang tua untuk mengikuti pilihan si anak, meski kadang tidak sejalan dengan nilai estetika. Memaksakan penggunaan bingkai kacamata pilihan orang tua bisa memicu resistensi anak mengenakan lensa koreksi tersebut. Ujung-ujungnya, kacamata tersebut tidak dia kenakan. Seiring bertambahnya usia, biasanya di usia Sekolah Menengah Pertama, anak biasa meminta lensa kontak sebagai pengganti kacamata. Keinginan ini bisa menimbulkan masalah baru karena penggunaan lensa konta yang tidak higinis bisa menimbulkan infeksi korena. Repka menyarankan para orang tua untuk melihat tingkat kedewasaan dan tanggung jawab anak sebelum memenuhi permintaan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *