Waspada! Jika Warna Urine Bayi Anda Tidak Normal

penyakit

Seperti halnya manusia dewasa, warna urine bayi juga bisa beragam. Pada kondisi yang normal, warna urine tersebut adalah kuning cerah cenderung bening. Seorang dokter spesialis anak menjelaskan, idealnya warna urine bayi yang normal tidak berwarna. Dan umumnya frekuensi bayi berkemih dalam sehari biasanya terjadi 8 hingga 10 kali.

Lebih lanjut, Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini menerangkan warna urine bayi baru lahir (0 – 3 bulan) dibandingkan dengan bayi di atas 4 bulan akan sama, berwarna kuning jernih. Saat anak sudah dikenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI), warna urine pada anak memang bisa berubah, tergantung dari makanan tambahan atau sedang mengonsumsi obat.

Artinya, seluruh sistem atau situasi di dalam tubuh berada dalam kondisi yang baik. Sebagai permisalan, warna urine normal menandakan bahwa tubuh sudah terhidrasi dengan baik—atau mungkin, tidak ada zat asing dan/atau berbahaya yang baru saja dikonsumsinya.

Selayaknya orang dewasa pula, jika warna urine pada bayi terlihat “tidak normal” tentu saja kita harus wasapada. Sebab bukan tidak mungkin kondisi itu mendandakan sedang ada yang tidak beres di dalam tubuh si bayi.

Jika kondisi ini berlangsung terus menerus, para orangtua patut curiga. Jangan sampai tanda-tanda itu terlewatkan begitu saja yang akhirnya malah membuat si anak terlambat mendapat pertolongan.

SehatQ berhasil menghimpun informasi tentang bermacam-macam warna urine pada bayi yang dianggap “tidak normal”. Jika bayi Anda berkemih dengan warna urine seperti di bawah ini, segeralah sambangi tenaga medis:

Pink atau Merah

Kemungkinan besar terdapat darah, hemogloblin, atau myoglobin (adanya protein dalam darah) jika warna urine bayi Anda berwarna pink atau kemerahan. Namun, bisa saja kondisi itu terjadi karena pewarna makanan yang dikonsumsi si bayi.

Dalam laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), seorang dokter menjelaskan bahwa urine yang berwarna merah muda atau merah juga bisa disebabkan kelainan darah yang lain lagi, seperti anemia hemolitik. Bisa pula terjadi lantaran obat-obatan macam rifampicin, desferioksamin, atau fenoftalein yang masuk ke dalam tubuh bayi.

Kondisi terparah yang mungkin saja terjadi lewat indikator kemih berwarna pink atau merah adalah kelainan metabolik seperti porfiria, kelainan ginjal, dan saluran kemih seperti infeksi saluran kemih, tumor, dan tuberkulosis.

Putih Keruh atau berbusa

Selanjutnya adalah warna urine putih keruh dan cenderung berbusa. Jika terjadi kondisi ini, ada potensi beragam kelainan di dalam tubuh bayi, tetapi utamanya adalah infeksi saluran kemih. Bisa juga urine yang berwarna putih keruh terjadi lantaran infeksi tuberkulosis.

Akan tetapi, hal ini juga memiliki kemungkinan diagnosis yang luas sehingga membutuhkan penyelidikan lebih mendalam. Endapan dari mineral dalam urine seperti hiperkalsiuria, fosfaturia, atau hiperoksaluria dapat ditemukan setelah setelah analisis urine. Konsultasi dengan ahli ginjal anak dianjurkan pada kondisi ini karena mungkin diperlukan perubahan asupan pola makan dan pengobatan infeksi saluran kemih.

Selain dua kondisi di atas, warna-warna urine seperti demikian juga harus diwaspadai:

  • Oranye: Urine yang berwarna oranye memiliki kemungkinan lantaran pada urine bayi Anda ada zat atau senyawa kimia yang dibawa oleh obat pereda sakit seperti pyridium, atau antibiotik seperti rifampisin.
  • Cokelat atau hitam: Biasanya di dalam urine terdapat myoglobin (adanya proten dalam darah), dan pigmen empedu. Atau bisa juga terjadi setelah bayi Anda mengonsumsi obat antibiotik seperti metronidazol dan nitrofurantoin.
  • Biru: biasanya diindikasikan terdapat obat methylene blue di dalam urine. Bisa saja karena infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh pseudomonas, meskipun itu amat jarang terjadi.  Atau bukan tidak mungkin si bayi tengah mengalami penyakit metabolik triptophan herediter.
  • Kuning tua: kemungkinan dikarenakan mengonsumsi vitamin C, Vitamin B, Betakaroten, jeruk, atau wortel.

Apabila orangtua menjumpai warna urine yang tak lazim, perlu diperhatikan beberapa hal. Misalnya, kapan mulai terjadi? Apakah berlangsung tiba-tiba? Apakah warna urine sama sepanjang hari? Apakah urine berbau tidak sedap? Apakah bayi buang air kecil lebih sedikit dari biasanya? Apakah ada riwayat meminum obat-obatan tertentu? Apakah disertai gejala lain misal bayi mengedan setiap buang air dan disertai demam atau gejala kuning pada kulit dan mata bayi?

Dengan demikian, warna urine bayi dan anak penting diperhatikan karena dapat menjadi tanda penyakit. Segeralah hubungi tenaga medis, konsultasikan, dan lakukan penanganan untuk menghindari hal-hal buruk terjadi pada bayi Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *